Catatan Relawan Suriah: Maut Tak Pernah Salah Memilih

Ummu Nadzir Al-Karum namanya, beliau tinggal di kampung Ihsim-Idlib, kami mendatangi rumah beliau di pinggiran kampung Ihsim, tatkala beliau sedang memasak roti untuk persiapan berbuka untuk beliau dan dua cucunya. Beliau merasa sangat bergembira ketika kami mengunjungi rumahnya, bahkan meminta kami untuk berbuka di rumah beliau. Demikianlah masyarakat Suriah, setiap kita datangi rumah mereka. Suatu kaum yang sangat memuliakan tamu-tamunya.

Inilah kisah Ummu Nadzir. Suatu hari di waktu sore, dua putri beliau bersama dengan dua anak mereka sedang berada di halaman rumah, tiba-tiba terdengar suara… bummmm! ledakan keras sekali! debu berterbangan, semuanya terdiam, tanpa suara. Setelah debu mulai menipis, tampaklah empat mayat terkapar, tepat di tengah-tengah rumah. Dua putri beliau dan dua cucunya diam tak bernyawa dengan tubuh terkoyak pecahan bom dan tubuh mereka penuh bersimbah darah. Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un…

Sekarang beliau tinggal sebatang kara bersama dengan dua cucu tersayang, di rumah yang menjadi saksi mati kekejaman Basyar Asad dan bala tentaranya.

Ketika kami menyerahkan bantuan uang kontan kepadanya, mata beliau berkaca-kaca, tak kuasa menahan rasa haru, seraya lisannya mengatakan, “Allah yu’tikum as-salamah wal-‘afiyah dan terus diulang-ulanginya beberapa kali sampai kami meninggalkan rumah beliau. Hati pedih mendengarnya dan air mata-pun mengalir deras sulit untuk dicegah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *